Olahraga

Sejarah Serta Perkembangan Bulu Tangkis Di Indonesia

Bulutangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang masuk didalam kelompok olahraga jenis permainan. Untuk bermain bulutangkis dapat dilakukan di dalam atau di luar lapangan. Lapangan bulutangkis dibatasi dengan garis-garis dengan ukuran tertentu baik panjang maupun lebarnya. Ukuran lapangan bulu tangkis terbagi menjadi dua sama besar yang dipisahkan oleh net yang dipasang di tiang net yang masing-masing ada di pinggir lapangan. Dalam permainan bulutangkis alat yang digunakan meliputi sebuah raket untuk alat pemukul dan “shutlecock” sebagai bola yang dipukul.

Permainan bulu tangkis ini dimulai dengan cara servis oleh salah satu pemain, yang memukul bola (shutlecock) dari petak servis kanan ke petak servis kanan lawan, sehingga jalan bola menyilang. Bulutangkis biasanya dikategorikan :

  1. Sepasang pria melawan sepasang pria (ganda putera).
  2. Sepasang wanita melawan sepasang wanita (ganda puteri).
  3. Seorang pria melawan seorang pria (tunggal putra)
  4. Seorang wanita melawan seorang wanita (tunggal putri).
  5. Sepasang pria/wanita melawan sepasang pria/wanita (ganda campuran).

Olahraga yang dimainkan menggunakan raket dan kok berkembang sekitar 200 tahun lalu di Mesir kuno. Nenek moyangnya merupakan sebuah permainan Tionghoa dengan nama Jianzi yang dimainkan menggunakan bola namun tidak menggunakan raket. Tujuan dari permainannya adalah untuk mempertahankan bola supaya tidak terjatuh dan menyentuh tanah selama mungkin menggunakan kaki.

Sejarah Penemuan Bulutangkis

Ada dua pendapat yang beredar mengenai asal mula permainan bulutangkis yakni di Mesir kuno (sekitar 2000 tahun yang lalu) dan dari daratan Tionghoa. Di daratan Tionghoa atau Republik Rakyat Tiongkok, bulutangkis berasal dari permainan rakyat setempat yang bernama Jianzi. Namun pada permainan Jianzi tidak menggunakan raket tetapi hanya kok (shuttlecock) saja. Adapun peraturan dasar dari permainan Jianzi ini sama halnya dengan aturan permainan bulutangkis yakni menjaga agar kok tidak jatuh menyentuh tanah/lantai selama mungkin.

Kemudian pada zaman pertengahan di Inggris juga terdapat sebuah permainan tradisional yang banyak dimainkan oleh anak-anak di negara tersebut yang bernama “Battledore and Shuttlecock”. Permainan itu menggunakan tongkat dan menjaga kok tetap di udara tanpa boleh menyentuh tanah/lantai yakni dengan cara dipukul terus-menerus selama mungkin.

Sementara di Indonesia, bulutangkis mulai dikenal dikenal oleh masyarakat pada 1930-an. Pada masa itu, cabang olahraga bulutangkis ini bernaung dibawah perkumpulan yang diberi nama Ikatan Sport Indonesia (ISI). Kemudian permainan bulutangkis mulai ditinggalkan ketika negara Indonesia menghadapi masa. Hingga pada akhirnya bulutangkis ini kembali hidup ketika Indonesia telah merdeka dan mulai berkembang pada tahun 1947.

Perkembangan Olahraga Bulutangkis

Bulutangkis atau yang sekarang lebih dikenal dunia dengan sebutan badminton mulai berkembang dan dikenal oleh masyarakat dunia pada abad ke-17. Kata badminton sendiri berasal dari sebuah nama tempat atau lebih tepatnya nama istana yang terletak di daerah Gloucester-shire sekitar 200 kilometer sebelah barat kota London, Inggris yaitu “Badminton House”.

Mereka adalah keluarga Duke of Beafourt merupakan pemilik istana ini. Keluarga ini sering mengadakan perlombaan bulutangkis di kawasan istana. Pada mulanya mereka mengadakan perlombaan yang sama dengan permainan Battledore and Shuttlecock yang beredar di masyarakat Inggris pada umumnya. Namun kemudian anak-anak dari keluarga Duke of Beafourt melakukan sedikit improvisasi pada permainan ini yaitu dengan memasang sebuah tali di tengah-tengah antara area permainan kedua pemain yang bertanding. Tali inilah yang menjadi cikal bakal tercipta net dalam permainan bulutangkis.

Pada akhir tahun 1850-an permainan Battledore and Shuttlecock variasi baru ciptaan keluarga Duke of Beafourt yakni dengan menggunakan tali berkembang pesat. Kemudian puncaknya yaitu pada tahun 1960, melalui sebuah pamflet yang ditulis oleh Isaac Spraat. Dalam pamflet ini Isaac Spraat menuliskan “Badminton Battledore a New Game” dan pada pamflet inilah revolusi baru dari permainan Battledore and Shuttlecock dan digunakannya istilah Badminton sebagai nama baru dari permainan itu pertama kali diceritakan pada masyarakat luas.

Kemudian Badminton House dijadikan sebagai nama dunia/internasional dari bulutangkis, karena di istana inilah permainan bulutangkis pertama kalinya dimainkan oleh masyarakat kalangan atas. Badminton House menjadi saksi sejarah dan tempat awal dikenalnya bulutangkis oleh seluruh dunia.

Perkembangan Bulutangkis di Indonesia

Di Indonesia bulutangkis mulai diperhitungkan dan berkembang ketika adanya kesadaran dari pemerintah dan masyarakat bahwa bulutangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang dapat mengharumkan nama bangsa Indonesia. Sejak itulah mulai didirikan berbagai perkumpulan yang menaungi olahraga bulutangkis. Dan kemudian mulai diselenggarakan berbagai perlombaan dan kejuaraan tingkat daerah dan nasional.

Perkembangan nyata olahraga bulutangkis di Indonesia terjadi pada tahun 1948 yakni dengan diadakan dan dimasukkannya bulutangkis sebagai salah satu cabang olahraga yang yang dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) I yang diadakan di Surakarta (kini Solo). Pekan Olahraga Nasional atau PON ini diikuti oleh berbagai daerah yang ada di Indonesia. Kemudian hal ini berlanjut dan semakin berkembang pada masa tahun 1950-an dengan mulai diselenggarakannya berbagai perlombaan yang tersebar di berbagai kota di Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi baik antar perkumpulan, kabupaten/kota, propinsi hingga tingkat nasional.

Bulutangkis Indonesia semakin berkembang pesat dengan kampanye yang disuarakan oleh Presiden Indonesia saat itu yakni Presiden Soekarno. Presiden Soekarno mengkampanyekan “Nation Building” yaitu gerakan untuk membangun bangsa, dan pelaku-pelaku olahraga termasuk sebagai salah satu pemain utama dalam gerakan ini. Presiden Soekarno memberikan pengarahan dan kobaran semangat pada pelaku-pelaku olahraga ini agar menjadikan olahraga sebagai sarana untuk mengenalkan negara Indonesia ke hadapan dunia internasional dan berjuang keras agar Indonesia mampu menciptakan sebuah prestasi di tingkat dunia.

Harapan dari Presiden Soekarno ini kemudian dituangkan dalam Kepres No. 263/1963 yang isinya menyangkut tentang upaya dan harapannya untuk mencanangkan Indonesia dapat masuk dalam peringkat 10 besar tingkat dunia. Harapan dan impian Presiden Soekarno ini mulai terjawab pada tahun 1958, yakni ketika Indonesia mengikuti ajang piala Thomas atau Thomas Cup (untuk putra) yang diselenggarakan di Singapura. Pada awalnya pemain Indonesia diremehkan oleh para pemain dari negara lain karena waktu itu adalah kali pertama Indonesia mengikuti ajang tingkat internasional tersebut, dan merupakan tim yang tidak diperhitungkan.

Tim bulutangkis Indonesia yang masih ‘anak bawang’ dalam kejuaraan tingkat internasional dianggap tidak akan mampu bersaing dengan tim bulutangkis terkuat pada masa itu (tahun 1950-an) yakni Amerika, Malaysia, Denmark, Inggris dan Thailand. Namun pemain dari tim bulutangkis Indonesia mampu memberikan kemampuan terbaiknya. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan dua orang atlet bulutangkis Indonesia dari kategori tunggal putra maju ke babak final. Dan yang lebih membanggakan lagi, mereka menciptakan suatu keadaan dimana kedua pemain yang bertanding di babak final berasal dari satu negara yakni Indonesia atau yang dikenal dengan istilah “All Indonesian Final”.

Demikianlah penjelasan mengenai sejarah Bulu tangkis, semoga artikel di atas dapat memberi manfaat dan dapat menambah pengetahuan Anda.

Sumber : DC. GC.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top