Berita

Kenaikan Dolar Berimbas Ke Beberapa Negara Berkembang

Kenaikan dolar yang berimbas ke beberapa negara berkembang memang patut menyita perhatian seluruh negara di dunia untuk tetap menstabilkan keadaan ekonomi yang makin melemah akibat naiknya dollar Ameerika Serikat. Hal tersebut harus mendapat penanganan yang cepat, agar dapat menstabilkan harga barang yang ada di pasar. Jika hal ini terus dibiarkan, maka seluruh rakyat khususnya Indonesia akan sangat sulit untuk membeli bahan – bahan pokok yang setiap tahunnya mengalami kenaikan harga.

Penguatan dolar di tengah kenaikan suku bunga FED telah mempertajam tekanan pada beberapa negara-negara berkembang sebagai investor yang menanam dana ke Amerika Serikat.

Tingginya suku bunga AS telah mendorong investor untuk memikirkan kembali investasi di negara-negara yang lebih kecil.

“Anda tidak merasakan dorongan untuk berinvestasi di pasar negara berkembang ketika berinvestasi dalam aset AS yang menawarkan keuntungan yang lebih tinggi, ” kata Chris Low, kepala ekonomi di departemen keuangan FTN.

Tren tersebut menandai pergeseran dari periode setelah krisis keuangan ketika bunga rendah di AS memberikan insentif bagi investor untuk mencari hasil yang lebih tinggi di luar negeri, terutama di negara-negara berkembang.

Negara-negara ini telah merespon dengan tajam mengenai peningkatan tingkat suku bunga, dan itu merupakan gerakan bukan tanpa risiko ekonomi.

Bahkan Bank Indonesia juga sempat memantau pengaruh penguatan dollar AS terhadap sejumlah mata uang di negara-negara berkembang, menyusul nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang hampir menyentuh posisi Rp 14.000 pada awal pekan ini.

Dari pantauan tersebut, nampak nilai tukar rupiah masih lebih baik dibanding nilai tukar mata uang negara berkembang lain.

Banyak mata uang negara berkembang yang tertekan jauh lebih dalam, ada turkish lira, ada russian ruble, brazil real, dan seterusnya.

Berdasarkan data pergerakan nilai tukar emerging market kalender berjalan atau year to date, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan atau depresiasi sebesar 2,23 persen.

Menurut Sri Mulyani, pengelolaan dari sisi fiskal tetap terjaga, dengan defisit transaksi berjalan di bawah batas aman 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), inflasi di kisaran 3,5 persen, serta tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,06 persen untuk kuartal I 2018 yang dinilai masih baik.

Sri Mulyani memastikan, pemerintah akan terus menjaga indikator-indikator tersebut hingga pelaku pasar melihat Indonesia sebagai negara dengan perekonomian yang baik dan stabil. “Dengan demikian, seluruh adjustment ini bisa dilakukan secara jauh lebih cepat dan tanpa gejolak yang berarti yang akan mengganggu pemulihan ekonomi Indonesia,” tutur Sri Mulyani.

Tren pelemahan rupiah sudah berlangsung beberapa waktu terakhir ini. Dinamika nilai tukar ada pada kisaran Rp 13.700 sampai Rp 13.900 dan menyentuh angka Rp 14.000 per Senin kemarin. Analis yang memperkirakan pelemahan rupiah akan berlanjut selama sepekan ini, bahkan berpotensi sampai akhir Mei 2018.

Faktor-faktor yang turut berkontribusi dalam pelemahan rupiah adalah pembagian dividen emiten pada awal kuartal II 2018 yang menyebabkan tingginya permintaan terhadap dollar AS, penguatan mata uang Amerika Serikat, hingga kenaikan US treasury atau suku bunga obligasi negara di atas 3 persen.

Beberapa negara lain yang mengalami pelemahan nilai mata uang lebih dalam dari rupiah adalah brazilian real (2,81 persen), indian rupee (3,38 persen), phillipine peso (4,15 persen), dan turkish lira (6,54 persen). Sementara negara berkembang lain yang nilai mata uangnya mengalami penguatan atau apresiasi terhadap dollar AS adalah thailand baht dan malaysian ringgit. Thailand baht mengalami apresiasi 4,01 persen, sedangkan malaysian ringgit terapresiasi 3,82 persen.

Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh sejumlah negara, melainkan berdampak pada hampir seluruh negara, sehingga siklus ini tidak bisa dicegah dan harus terus ditangani dengan cermat.

Tentunya, hal yang akan dilakukan pemerintah untuk menyikapinya adalah dengan terus berkoordinasi menjaga kinerja perekonomian Indonesia tetap baik sambil sama-sama melalui masa penyesuaian ini. “Kami akan terus menjaga perekonomian Indonesia, fondasi kami perkuat, kinerja kami perbaiki, hingga apa yang disebut sentimen market itu relatif bisa netral terhadap Indonesia,” kata Sri Mulyani di gedung Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin malam.

Di sisi lain, Bank Sentral Argentina juga mengangkat tingkat suku bunga sampai 40 persen, dan jika kejadian seperti itu terjadi, akan ada upaya melakukan pinjaman dari Dana Moneter Internasional.

Serta Bank sentral di Turki juga mendorong laju pinjaman dari 13.5 persen menjadi 16.5 persen meskipun dorongan dari Presiden Tayyip Erdogan yang telah mencari tingkat rendah untuk meningkatkan pertumbuhan tidak menimbulkan efek inflasi.

Turkey dibebani oleh defisit akun berjalan yang besar, nilai mata uang asing akan menjadi tiga kali lebih besar daripada cadangan devisa yang mengalami inflasi.

Argentina juga telah menderita inflasi tahunan lebih dari 20 persen dan perdagangan besar serta defisit anggaran. Negara tersebut juga mengingat baik krisis menyakitkan yang mengarah ke utang pada tahun 2001.

Menurut catatan pakar ekonomi Oxford, lebih dari setengah pergerakan mata uang Argentina dan Turki adalah karena peningkatan risiko di negara-negara tersebut.

Sebaliknya, negara berkembang lainnya, termasuk Rusia, Polandia, dan Malaysia telah melihat nilai mata uang mereka jatuh drastis terhadap dolar. Dan itu merupakan hal terburuk yang dapat membuat suatu negara melakukan pinjaman yang pada akhirnya akan menambah utang yang lebih besar.

(Sumber: jp)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top