Berita

Inilah 5 Kasus Kejahatan Orang Tua Terhadap Anak

Sebagai orang harusnya kita dapat dengan bijak untuk mengayomi sang anak. Tanpa sifat tersebut, kita enggak akan bisa mendidik anak dengan baik. Sebab, mendidik anak adalah pekerjaan yang enggak mudah. Orangtua yang sukses adalah mereka yang membesarkan anak dengan baik dan menjadikan anaknya menjadi seseorang yang bermanfaat. Untuk melakukannya, orangtua harus dengan bijak memahami apa keinginan sang anak tanpa melukai perasaannya.

Anyway, tetep aja banyak orang di dunia ini yang sebetulnya enggak pantas dan gagal jadi orangtua. Mereka bukannya gagal membesarkan anak supaya jadi orang baik, atau gagal bersikap dewasa. Kegagalan mereka dilihat dari cara mereka mendidik dan memperlakukan anaknya sendiri. Bahkan, dalam beberapa kasus, para orangtua gila ini malah membahayakan nyawa anaknya sendiri. Mungkin lo enggak percaya sama argumen ini karena beranggapan “enggak ada orangtua yang jahat sama anaknya sendiri.” Akan tetapi, gue jamin pandangan lo bakal berbalik 180’ setelah membaca ulasan gue mengenai orangtua gila yang ada di penjuru dunia setelah ini.

Anak virtual bikin lupa sayang anaknya sendiri

Permainan dalam dunia maya alias dunia virtual memang ada-ada saja. Enggak cuma perang virtual, rumah virtual, selingkuhan virtual, ada juga permainan yang memungkinkan kita mengasuh bayi, alias bayi virtual. Salah satu laman yang menyediakan permainan bayi virtual adalah PRIUS Online. Sebetulnya, enggak masalah bagi siapa saja buat punya bayi secara virtual. Asalkan, jangan sampai melakukan hal bodoh seperti layaknya pasangan suami-istri di Korea Selatan, Kim Yoo-Chul dan Choi Mi-Sun.

Keduanya adalah pasangan kekasih yang sudah memiliki bayi perempuan mungil berusia tiga bulan. Sayangnya, bayi itu lahir prematur dan otomatis berat badannya kecil, serta mudah sakit-sakitan. Sebagai orangtua, semestinya kita fokus banget membesarkan anak kita, terutama di bulan-bulan pertama yang rentan. Apalagi, anak itu punya riwayat kelahiran prematur. Alih-alih dirawat dengan penuh perhatian, si anak bayi yang nyata hanya diberi satu botol susu setiap hari. Kenapa? Karena waktu mereka berdua habis di warung internet alias PC Bang (sebutan warnet di Korea Selatan), buat merawat bayi yang mereka buat di laman virtual itu. Pada suatu hari, mereka menemukan bayi asli mereka meninggal sepulangnya mereka dari PC Bang. Akibat kelakuan bodohnya, mereka ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara dua tahun karena kelalaian dan kekerasan pada anak.

Hadiah istimewa

Udah jadi hal yang biasa jika seorang anak dijanjikan hadiah oleh orang tuanya saat memenangkan atau mencapai sesuatu. Umumnya, orangtua memberikan hadiah yang bisa ningkatin semangat anaknya, mulai dari mainan, gadget, pakaian, maupun uang sekalipun. Satu hal yang pasti, hadiah ini tentunya bersifat positif dan enggak melanggar hukum. Hal tersebut ternyata enggak dipikirkan oleh orangtua gila asal Florida bernama Chad dan Joey Mudd. Mereka berdua memang enggak pernah melakukan kekerasan atau pengabaian pada kedua putri mereka yang masih 13 dan 14 tahun. Sebaliknya, mereka juga memberi hadiah kepada kedua anaknya setelah mencapai sesuatu. Namun, upaya baik ini bisa jadi amat jahat karena mereka menghadiahkan sang anak dengan ganja dan kokain.

Orangtua pada umumnya pasti akan stress berat kalau mengetahui anak mereka yang masih di bawah umur mengonsumsi narkoba. Namun hal tersebut dianggap sebaliknya oleh Chad dan Joey, pecandu narkoba kelas berat yang menganggap bahwa obat-obatan terlarang adalah hal yang biasa dan menyenangkan. Bahkan, Chad juga pernah menghisap kokain bersama pacar dari putrinya. Keduanya pun akhirnya ditangkap, tetapi enggak lama dibebaskan lagi dengan jaminan. Hanya saja, belum diketahui hak asuh kedua anak mereka jatuh ke tangan siapa. Soalnya, kedua orang ini dianggap enggak mampu merawat anak.

Lupa sama anak gara-gara Facebook

Enggak diragukan lagi kalau Facebook udah menjadi candu. Di antara berbagai keasyikan serta kegunaannya, jejaring sosial kreasi Mark Zuckerberg ini juga seringkali punya ancaman bahaya yang tak terlihat. Ibu satu anak dari kota Denver, Amerika Serikat, bernama Shannon Johnson menjadi korban kecanduan Facebook. Akibat ketagihan main game di Facebook, Cafe World, Shannon sampai lupa sama anaknya sendiri hingga nyawa sang anak melayang.

Ceritanya, sang ibu meninggalkan anaknya yang lagi mandi sendirian di bath-tub. Tragisnya, sang anak kena sial hingga terpeleset dan dan tenggelam. Meskipun insiden seperti ini memang enggak disengaja, tetap saja Shannon lalai sebagai orangtua karena enggak menjaga anaknya. Dia pun akhirnya ditangkap oleh pihak berwajib dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Menggorok anak karena Facebook

Lagi-lagi internet, lagi-lagi Facebook. Kali ini, bukan orangtua yang ketagihan main Facebook, melainkan sang anak. Seorang ayah hampir aja membunuh anaknya karena enggak suka dengan anaknya yang setiap saat bermain Facebook. Sebagai hukuman, sang ayah menyekap anaknya di ruangan sempit, dan lebih parahnya lagi hingga menggorok lehernya. Untungnya, nyawa sang anak berhasil terselamatkan.

Sebenarnya, sang ayah bermaksud membuat anaknya jera supaya enggak ketagihan main Facebook dan membahayakan diri di sana dengan berkenalan sama orang-orang asing. Namun, entah apa yang ada di pikiran sang ayah hingga menggorok leher anaknya. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, perbuatannya itu malah jauh lebih berbahaya daripada Facebook karena hampir membuat sang anak meregang nyawa.

Memasukkan anak ke mesin cuci

Sekesal-kesalnya orangtua sama anak sendiri, enggak semestinya kita menyakiti fisik anak. Apalagi anak yang masih balita dan belum bisa membedakan benar-salah. Namun pemahaman ini enggak berlaku bagi Champenois, seorang Ayah dari Prancis, yang memasukkan anaknya ke dalam mesin cuci. Perbuatan sadis ini bermula saat sang ayah enggak tahan sama anaknya yang rewel. Bukannya menenangkan atau menghiburnya, Champeonis malah memasukkan anaknya ke mesin cuci untuk mendiamkannya. Memang sih, pada akhirnya sang anak bisa diam. Namun sayangnya dia harus diam selamanya karena nyawanya enggak terselamatkan.

Awalnya, Champenois mengatakan kalau anaknya terpeleset dan jatuh ke dalam mesin cuci. Istrinya, yang pada saat itu lagi main puzzle bersama anak satunya lagi, entah mengapa membela suaminya dan mengaburkan kenyataan kalau sang anak faktanya dibunuh oleh suaminya. Akhirnya, anak Champeonis yang bermain puzzle membeberkan fakta yang sebenarnya ke pihak berwajib, hingga akhirnya ditemukan pula bukti bahwa sang anak memang dimasukkan ke mesin cuci. Atas perbuatannya sadisnya, Champeonis dihukum dengan kurungan penjara selama 30 tahun. Tentunya hukuman ini terlihat amat enteng jika lo tahu apa yang dikatakan Champeonis kepada istrinya setelah mendapati anaknya meninggal di mesin cuci: “Setidaknya dia enggak mengganggu kita lagi.”

Nampaknya, peribahasa “harimau enggak akan memakan anaknya sendiri” pantas digunakan untuk menyindir para orangtua di atas. Pelajaran aja buat kita, kalau belum siap jadi orangtua, jangan cepat-cepat menikah. Anak itu bukan boneka yang bisa seenaknya dirusak kemudian dibetulkan, loh!

Sumber : Kc.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top