Berita

Film Yang Sedang Terkenal Saat Ini Yaitu “Dilan 1990”, Sukses Meraih 225.000 Penonton Dalam Sehari

Film Dilan 1990 sukses meraih penonton sebanyak 225 ribu di hari pertama tayang, Kamis, 25 Januari 2018. Hal tersebut mencapai sesuai target dari rumah produksi, Max Pictures. Setidaknya mereka menargetkan Dilan 1990 akan di tonton 3 juta orang.

“Sesuai target kita, hari pertama harus tembus sebanyak 200 ribuan kalau mau dapet 3 juta penonton,” ucap produser film tersebut, Ody Mulya Hidayat saat di temui di TPU Karet Bivak, Jakarta, Jumat, 26 Januari 2018.

Jumlah penonton tersebut di dapat setelah Dilan di putar di 389 layar bioskop di seluruh dunia. Angka yang kian bertambah membuat pihak bioskop akan menambah layar pemutaran film Dilan.

“Alhamdulillah jadi nambah layar mudah-mudahan sore ini sudah 500 ribu (penonton) lah,” ucapnya.

Dilan 1990 di angkat dari novel karya Pidi Baiq dengan judul yang sama. Film tersebut di bintangi Iqbaal (Dilan) dan Vanessa Prescilla (Milea). Filmnya mengisahkan perjuangan cinta mereka berdua di Kota Kembang dengan latar waktu 1990.

Film yang di sutradarai Fajar Bustomi itu mempertahankan adegan dan dialog romantis dan sifat ajaib yang di tampilkan Dilan dari novelnya. Hal itu yang di duga kuat sebagai magnet untuk penonton.

“Saya baca di socmed, reviewnya positif. Itu salah satu kepuasan kami, karena film ini bisa membuat baper penonton,” kata Ody.

Dilan (Iqbaal Ramadhan) berupaya untuk mendekati Milea (Vanesha Prescilla), siswa pindahan dari Jakarta. Film yang berlatar di Kota Bandung pada awal 1990 ini memberi gambaran awal mula kisah asmara Dilan dan Milea.

Tingkah tidak terduga Dilan yang melancarkan rayuan-rayuan menggelitik membuat Milea mabuk kepayang. Milea yang mulai penasaran akhirnya jatuh cinta dengan pria yang awalnya ia anggap aneh.

Bagaimana tidak aneh, di awal perkenalan saja yang pertama yang di ucap Dilan adalah ramalan pertemuan mereka kelak di kantin sekolah. Belum lagi hadiah ulang tahun berupa buku Teka-Teki Silang (TTS) yang sudah di isi penuh. Agar Milea tidak pusing untuk mengisi, katanya.

Kala di saat Milea jatuh sakit, Dilan malah mengirim tukang pijat alih-alih langsung datang menjenguknya. Namun hal-hal aneh itulah yang membuat Milea luluh dan terus merindukan Dilan, menanti suara telepon di rumah berdering hanya untuk mendengar suara di seberang yang gemar merayu.

Film yang akan di arahkan oleh sutradara Fajar Bustomi dengan keterlibatan langsung dari sang empunya cerita, Pidi Baiq, membuat Dilan 1990 menjadi adaptasi yang cukup baik. Meski di akui sutradara ada beberapa adegan yang di potong karena keterbatasan durasi, benang merah cerita tetap dapat di wujudkan.

Terlebih, kisah Dilan 1990 sendiri memang sudah memiliki cerita yang kuat. Dalam hal ini, penulis naskah Titien Wattimena patut diapresiasi yang mampu membawa dialog di film tetap memiliki jiwa seperti di novelnya. Penggambaran kehidupan remaja di masa SMA pun masih terasa masuk akal. Dari tingkah nakal remaja yang membolos, berpakaian tidak rapi, memiliki konflik dengan guru atau teman sebaya dan lainnya.

Peran Iqbaal yang sebelumnya sempat di ragukan dan menuai banyak reaksi negatif terbilang cukup berhasil menjelma sebagai Dilan. Pada beberapa adegan, Iqbaal mampu “berbicara” sebagai karakter Dilan dengan baik. Aksinya dalam bermain lakon setidaknya dapat di terima, meskipun pada beberapa bagian awal masih terasa kaku.

Selain itu, debut Vanesha berakting juga memberi kesan yang baik. Dia mampu membawakan karakter Milea sesuai ekspektasi. Ekspresinya sebagai remaja yang polos pun tidak berlebihan.

Pendekatan untuk latar tahun 1990-an di gambarkan cukup pas dengan suasana kota Bandung yang masih sepi sebelum di padati kendaraan. Namun sayangnya, riasan para pemain yang di ceritakan masih siswa SMA itu menjadi kelemahan film ini. Riasan wajah pemain terlihat berlebihan dan tidak natural.

Secara keseluruhan, film ini setidaknya terasa tepat untuk menjadi hiburan bagi para remaja dan masih dapat di nikmati untuk sekadar bernostalgia. Memang bukan rahasia lagi kalau film Dilan 1990 ini memang di angkat dari novel laris karya Pidi baiq, si imam besar The Panasdalam.

Dalam novel bersampul biru muda itu, Dilan dan Milea diceritakan sebagai sosok dua anak SMA yang sedang merasakan indahnya jatuh cinta. Mengambil lokasi di Bandung tahun 1990-an, Milea yang merupakan anak pindahan dari sebuah SMA di Jakarta, di buat bertekuk lutut oleh romantisme ala Dilan.

Bahkan, ada penggemar buku Pidi yang menyangka kalau Dilan dan Milea adalah dua karakter fiksi yang sebenarnya ada di dunia nyata. Sebenarnya, rasa penasaran itu memang tidak ada salahnya juga kan. Sayangnya, sang penulis, Pidi Baiq memang tidak pernah menampik atau mengiyakan rasa penasaran pembaca novelnya.

Padahal nih, kalau di lihat gaya bercanda Dilan dan Pidi Baiq memang benar mirip loh!

Enggak percaya? Coba baca lagi novel-novelnya; Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990, Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 dan novel lanjutannya Milea: Suara Dari Dilan. Ini adalah salah satu scene yang paling ikonik dalam film Dilan 1990. Hayo, yang sudah baca novelnya, pasti tahu dong ini scene yang mana? Tapi, menurut kamu Dilan dan Milea itu benar-benar ada di dunia nyata enggak sih? Nah, sebenarnya sejak beberapa waktu yang lalu, Pidi Baiq, melalui media sosialnya sempat mengunggah dua buah foto perempuan cantik. Perempuan itu masih sangat muda, berambut panjang dan bermata indah.

Kamu masih ingat scene Dilan dan Milea yang hujan-hujanan naik motor keliling kota Bandung?

Nah, para follower media soaial Pidi memang sempat menyangka kalau itu adalah sosok Milea Adnan alias Lia yang asli. Sebab, perempuan itu sama persis cantiknya dengan penggambaran Dilan soal Milea di bukunya. Kira-kira, ini sosok Milea yang asli bukan ya?

Setelah foto perempuan yang disebut-sebut Milea diunggah oleh Pidi Baiq di media sosial, netizen langsung ramai-ramai berkomentar.

“Cantiknya Milea,” tulis callistaa

“Milea yang asli ya, mirip vanesha,” tulis nellawiranti

“Ini Milea asli? Ya Allah gimana ya rasanya jadi Milea? Di bikinin novel sampai film, saking cintanya ayah Pidi pada sosok Milea, istri ayah cemburu gak?” tulis ravitaintan.

“The real Milea,” tulis mardiatunissa

“The real Milea,” tulis nazrialin.

Perempuan cantik ini disebut-sebut sebagai sosok Milea asli di dunia nyata. Kamu percaya enggak nih?

“Pantasan si Dilan sampai tergila-gila, cantik banget,” tulis efan juniansyah.

“Iya Milea yang asli,” kata ika.

Jadi menurut kamu, perempuan di atas sosok Milea yang asli bukan nih? Geulis pisan!

Beberapa Alasan Membuat Film Dilan 1990 di Luar Dari Ekspektasi

Mulai tayang pada tanggal 25 Januari kemarin, berbagai media sosial diramaikan dengan respon masyarakat yang bervariasi. Mulai dari membuat plesetan film Dilan hingga ungkapan perasaan baper. IDN Times yang berkesempatan untuk menyaksikan film ini merangkum kekurangan dan kelebihan film Dilan 1990.

1. Joke “Sang Peramal” yang fresh sukses menghibur isi bioskop

Dalam film Dilan 1990, sutradara sukses membuat candaan “Sang Peramal” ini begitu fresh dan menyenangkan. Tidak seperti film romantis biasanya yang terkesan sendu, film ini menyuguhkan candaan khas karakter Dilan “Sang Peramal” asal kota Kembang.

2. Hampir semua apa yang kamu baca akan disajikan dalam film

Buat kamu yang sering mengeluh akan film adaptasi novel yang terlalu banyak memotong bagian dalam buku aslinya, kamu tidak perlu khawatir dengan Dilan 1990. Sutradara berhasil memvisualisasikan karya Pidi Baiq dengan sempurna.

Suasana Bandung juga sangat terasa di film ini, pengambilan gambar dan lokasi yang tepat membuat kita sangat terbawa dalam kota Bandung di tahun 1990.

3. Akting Iqbaal yang sempat menuai pro kontra

Kamu para penggemar Iqbaal (Soniq) pasti tidak akan menduga dengan aktingnya yang di luar ekspektasi. Dalam film ini Iqbaal menunjukkan sisi yang tidak di sangka oleh penggemar. Mulai dari segi bicara, gestur tubuh serta emosi Iqbaal dalam film patut di acungi jempol.

Romantisnya dapet, tengilnya pun juga dapet yang di miliki oleh dilan. Bikin penonton gemes deh sama dia. Begitu juga dengan Vanessa yang berhasil memvisualisasikan Milea dengan ciamik.

4. Pemilihan Iqbaal sebagai Dilan “Sang Peramal” Kota Bandung yang tepat

Meski sebelum rilis banyak pro kontra perihal pemilihan Iqbaal sebagai Dilan, namun ternyata dirinya sangat cocok dengan karakter cowok asal Bandung yang manis.

Pelafalan bahasa sunda Iqbaal yang pas juga membuat film yang kental dengan romansa remaja Bandung saat itu menjadi kuat.

5. Tidak persis dengan Pidi Baiq, Iqbaal menciptakan peran Dilan versi dirinya yang lebih santai

Kamu yang membaca novel Dilan 1990 pasti membayangkan sosok Dilan merupakan sang pujangga di tahun 90-an. Namun di versi film, Iqbaal menunjukkan Dilan versi dirinya sendiri yang lebih segar, ringan dan lebih santai.

6. Sosok “Panglima Tempur” yang kurang mantap

Selain di kenal sebagai sang peramal, julukan lain Dilan adalah “Panglima Tempur”. Namun, penggambaran karakter Dilan yang merupakan sosok “Paglima Tempur” ini tidak begitu kuat seperti yang di gambarkan dalam buku. Karakter Iqbaal sebagai cowok bad boy yang slengekan dirasa kurang mantap.

7. Beberapa karakter di film Dilan 1990 tidak begitu di tonjolkan

Jika di dalam buku beberapa karakter pendukung seperti Piyan, Anhar, Wati dan lainnya dikenal sangat kuat. Dalam versi film, karakter di sekitar Dilan maupun Milea dirasa kurang begitu nyata, sehingga karakter pendukung yang sebenarnya mewarnai novel Dilan 1990 seperti kurang terasa kehadirannya.

Itulah tadi beberapa kelebihan dan kekurangan dari film Dilan 1990. Romantis namun juga menghibur, perpaduan yang pas untuk di masukkan dalam daftar wajib tontonan pekan ini. Apalagi film Dilan menunjukkan bahwa cinta di zaman dulu ternyata sesederhana itu dan manis sekali.

Dibalik Melakukan Peran, Ada Cerita Menarik

Adegan Pertengkaran Diambil Selama 6 Jam

Dalam membintangi sebuah film, setiap aktor pasti pernah menjumpai kesulitan dalam menuntaskan adegan sesuai tuntutan skrip dan sutradara. Begitu juga dengan Iqbaal yang memerankan karakter Dilan dan Giulio Perengkuan yang berperan sebagai Anhar dalam film yang diangkat dari novel, Dilan 1990.

Bila merujuk pada novelnya, ada saat di mana Dilan bertengkar hebat dengan Anhar. Pertengkaran mereka terjadi di lorong sekolah. Dan adegan ini begitu sulit ditaklukkan oleh Iqbaal dan Giulio.

Berantem tuh sebenarnya lebih ke technical wise. Kita kan enggak pernah main film adegan berantem dan adegan berantem ini cukup intense dan panjang. Di lorong sekolah juga, jadi space-nya enggak banyak.

Vanesha Ditampar Sungguhan

Tidak cuma Iqbaal yang yang berjumpa dengan adegan tersulit dalam memerankan sosok Dilan, Vanesha Prescilla juga mendapat pengalaman serupa. Menjadi Milea dalam film Dilan 1990, ada adegan paling sukar yang tidak bisa di lupakan.

Karena rasa kesal yang meluap-luap, tokoh Anhar yang di perankan oleh Giulio Perengkuan menampar wajah Milea di sekolah. Setidaknya butuh retake hingga 15 kali untuk mendapatkan gambar yang sempurna.

Kesulitan itu kian bertambah kala adegan menampar harus di lakukan dengan sungguhan, tidak di buat-buat.

“Wah, itu pengorbanannya. Di tampar sampai 15 kali. Harus kena, biar berasa. Karena harus di sini kan (tepat di pipi), dia mukulnya ke sini, ke sini (tidak tepat sasaran)” ujar Iqbaal.

Tokoh Dilan sendiri memiliki kepribadian yang berbeda dari sosok Iqbaal. Dilan di gambarkan sebagai Panglima Tempur namun bisa bersikap lembut terhadap sosok wanita.

Untuk menjiwai karakter ini, saat syuting Iqbaal ingin dipanggil dengan nama Dilan, bukan dengan nama aslinya. “Saya bilang sama kru ketika di lokasi saya mau dipanggil Dilan,” ujar Iqbaal.

Selama proses syuting berlangsung, Iqbaal memutuskan untuk menghentikan aktivitasnya di media sosial. Ia menganggap, media sosial tidak memiliki kaitan dengan penggambaran cerita pada tahun 1990.

“Saya sampai setop semua medsos tuh, Instagram, Snapchat, Line, saya cuma pakai WhatsApp. Buat saya 90-an nggak ada tuh yang kayak gitu,” sambung aktor berusia 18 tahun tersebut.

Bertemu Dilan Asli

Berperan sebagai Dilan dalam film garapan Fajar Bustomi, Dilan 1990, merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi Iqbaal Ramadhan. Untuk mendalami karakter Dilan, mantan penyanyi cilik ini bahkan sudah di pertemukan dengan sosok asli Dilan.

Dari pertemuannya dengan Dilan, Iqbaal Ramadhan bisa mempelajari bagaimana cara dia bertutur kata sesuai dengan yang di tuangkan Pidi Baiq dalam karya novelnya.

“Itu pengalaman yang luar biasa ya buat saya pribadi. Ketemu sama Dilannya, saya membayangkan dia membaca semua dialog di buku (novel),” kata Iqbaal.

Sumber: L6.CNNI.TN.IT.GI

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top